Atas Nama Keadilan

Gambar

ilustrasi

MEDAN- Ketika ada dugaan permainan dalam pelaksanaan undang-undang dan hukum, maka muncullah orang-orang yang merasa teraniaya dan terkorbankan. Sebagian mungkin memilih diam dalam ketidakberdayaan, sebagian lain memilih untuk berjuang mencari jalan lain menuju keadilan, walau dengan cara-cara yang sangat mengejutkan.

Lihatlah apa yang dilakukan oleh Indra Aswan, seorang Bapak yang punya pengalaman buruk dengan pengadilan. Tanggal 8 februari 1993, putra sulungnya Rifki Andika, tewas tertabrak sebuah mobil. Kejadian ini sempat ditangani polisi dan sang pelaku yang anggota kepolisian itu ditahan selama 2 minggu, lalu dibebaskan atas perintah Dan Pom V/3 Malang. Jelas Indra kecewa berat.

Pada tahun 2004 mulai ada titik terang, karena kasus ini kembali diungkap oleh pihak Oditurat militer III-12 Surabaya. Tahun 2006 kasus ini dilimpahkan ke Pengadilan Militer Tinggi III dan kemudian pengadilan pada tahun 2008, atau 15 tahun setelah kasus tabrakan itu, memutuskan : bahwa perkara ini sudah melalui tenggang waktu alias kadaluarsa!!

Indra merana!

Maka ia memilih cara lain untuk mencari keadilan yang diimpikan, Ia pun beberapa kali mengirim surat ke Presiden, dan hasilnya tidak memuaskan. “ Ini kasus sudah mengalami empat kali ganti Presiden!,” ujar Indra saat tampil di Kick Andy.

Demi menuntut keadilan, Indra pun mencari jalan lain lagi. Ia nekad berjalan kaki dari Malang , Jawa Timur, menuju Jakarta. Ia menempuh perjalanan 22 hari, tujuaannya; bertemu dengan orang nomor satu di negeri ini. “Saya pengen didengar, masa kasus Luna Maya saja dikomentari,” harapnya.

Di Jakarta, berbagai aksi demo pun dilakukannya, termasuk aksi mogok makan di depan istana dan berupaya menemui Presiden di kediamannya di Cikeas, namun tak berhasil. Ia sempat frustasi dan merasa tak ada lagi yang peduli pada nasibnya. Maka iapun sempat menyampaikan keluh kesahnya kepada patung gorila di kawasan kebon binatang Ragunan, Jakarta. Dan di saat-saat kepulanganya ke Malang, ia kemudian mendapat kabar bahwa Presiden SBY mau menerimanya di Istana.

Sementara dari Jakarta, Sumarsih, terus berjuang untuk mencari keadilan atas kematian putra tercintanya Bernardinus Realino Norma Irmawan alias Wawan. Wawan adalah salah satu korban penembakan di tragedi Semanggi I tahun 1998.

Sudah 12 tahun Sumarsih bersama keluarga korban lainnya mencari keadilan, berharap hukum di negeri ini bisa menyeret pelaku penembakan dalam tragedi itu ke pengadilan. Maka berbagai aksi ia lakukan, berbagai mediasi ia tempuh, sampai berbagai aksi demo ia jalani. Semua demi memenuhi rasa keadilan yang ia harapkan.

Hingga sekarang Sumarsih tidak menyerah. Jika melewati istana kenegaraan setiap hari Kamis, maka kita masih akan menjumpai ibu Sumarsih berbaju dan berpayung hitam , berdiri di kawasan Monas menghadap istana. Ia menjadi bagian dari kelompok para pencari keadilan HAM, yang tak pernah mematikan asa dan terus bermimpi untuk mendapat keadilan. “Target kami bukan bertemu Presiden, tapi penegakan hukum,” ujar Ibu yang selalu tampil dengan busana hitam ini.

Kisah lain hadir dari mantan penari dan penyanyi di Jaman Presiden Soekarno, Nani Nurani. Kisah hidup Nani tak seindah tarian dan nyanyiannya. Meski sempat mentas dari panggung rakyat hingga istana kepresidenan, penari kelahiran Cianjur, tahun 1941 itu pernah juga mendekam di penjara selama tujuh tahun. Bukan untuk menari tentu, tapi ia dipenjarakan karena tuduhan sebagai antek-antek partai terlarang di negeri ini.

Nani mendekam di penjara Bukit Duri Jakarta, sejak tahun 1971 dan dibebaskan tahun 1976 setelah sebelumnya disumpah untuk tidak menuntut pemerintah. Sejak itu kartu tanda penduduk atau KTP-nya pun ber-cap tapol!

Tahun 1997 Nani mendapati KTP barunya sudah bersih dari cap tapol. Meski itu yang ia harapkan, tapi nani tak mau terima begitu saja. Dia menginginkan bukti hitam di atas putih, bahwa dia bukan ex tapol. “Sejak saat itu saya mulai berjuang dengan melaporkan kepada LBH, Komnas HAM, untuk mengajukan status saya ke kecamatan hingga ke PTUN,” katanya.

Perjuangan untuk mendapat legalitas, ia teruskan saat usia lanjut, dimana ia harus memiliki KTP seumur hidup. Maklum, menurut aturan bahwa mereka yang ex tapol tidak bisa memilikinya. Dan Nani bertekad, ia akan terus berjuang demi sebuah identitas dan nama baik.

Sementara itu, Sisi Chalik sudah sepuluh tahun berjuang atas kasus mal praktek yang menimpa dirinya.

Pada mei tahun 2000, Sisi menjalani operasi pengangkatan myioma di rahimnya. Pasca operasi kondisinya justru malah semakin memburuk, bahkan sempat masuk ICU. Operasi berulang sempat ia jalani, karena ada masalah di usus akibat kesalahan dalam proses operasi. Alhasil dalam periode Mei – Juni 2000, Sisi harus menjalani lima kali operasi, termasuk operasi untuk membuat colostomy atau lubang untuk pembuangan dubur di perut.

Pada akhirnya Sisi merasa kecewa, karena operasi miyoma itu telah meninggalkan cacat di tubuhnya. Bertahun-tahun sisi harus membiasakan hidup dengan sebuah lubang di perutnya. Setiap hari ia juga harus merawat dan membersihkannya dengan telaten. Sepuluh tahun sudah Sisi berjuang menuntut keadilan atas tindakan mal praktek ini. Ia pantang menyerah dan mengaku akan terus berjuang untuk haknya dan terus berjuang bagi kehidupannya meski dalam kondisi yang demikian.

Inilah kisah-kisah penyemangat hati, tentang orang-orang yang pantang menyerah menggapai harapan atas nama keadilan.(creative)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s